Oleh: Syamsudin Kadir
Direktur LITERASIA-Literasi Indonesia
KITA sering mengira demokrasi itu urusan besar di Jakarta, Presiden, DPR, Mahkamah Konstitusi dan KPU. Padahal demokrasi yang paling awal itu ada di dalam diri kita. Saat seorang siswa umur 17 tahun memegang surat undangan memilih dan bertanya, saya memilih untuk apa? Di rasa bimbang itulah masa depan negara ini sebenarnya diuji. Pemilihan umum atau pemilu adalah praktik demokrasi yang paling aktual dan konektif dengan pemilih, termasuk pemilih pemula.
Pemilih pemula adalah warga negara yang baru bertumbuh akal sehatnya. Setengah dirinya masih siswa, setengahnya lagi sudah jadi warga negara penuh. Kita sering menyebut mereka bonus demografi, tapi menjadi bonus demokrasi. Akhirnya banyak yang datang ke TPS dengan semangat tinggi, tapi pengetahuan tentang pemilu masih sedikit. Mereka masih kerap dianggap massa pelengkap, bukan warga negara yang memiliki hak politik yang sama dengan yang lainnya.
Tantangan Pemilih Pemula dan Urgensi Duta Pemilih
Tantangan pemilih pemula umumnya berkaitan langsung dengan diri mereka sendiri. Tantangannya terlihat dalam tiga hal penting. Pertama, kurang peduli. Mereka menganggap semua calon sama saja. Kedua, ikut-ikutan. Mereka memilih karena ikut teman atau karena ramai di TikTok. Ketiga, mudah percaya berita bohong dari grup WhatsApp. Jika tidak ada yang membantu menjelaskan, hak pilih yang berharga bisa terbuang atau disalahgunakan.
Di celah semacam inilah kita butuh Duta Pemilu, dalam konteks ini yaitu Duta Pemilu Siswa. Jangan bayangkan Duta Pemilu Siswa seperti petugas KPU kecil yang kaku dan tidak paham apa-apa. Mereka adalah teman sebangku para siswa yang peduli dan empati pada teman dan bangsanya. Tugas mereka bukan menyuruh untuk memilih calon tertentu, tapi mengajak berpikir jernih dan kritis sebelum memilih.
Tugas Duta Pemilu
Bila ditelisiki, tugas Duta Pemilu yaitu, pertama, menjaga akal sehat. Mereka tidak ceramah panjang tentang teori. Mereka mengajari hal kecil tapi penting. (1) Bagaimana cara mengecek nama pemilih pemula sudah terdaftar di DPT melalui website resmi yang disediakan KPU: http://cekdptonline.kpu.go.id. (2) bagaimana cara melipat dan mencoblos surat suara yang benar. Dan (3) mengapa tinta di jari menjadi tanda penentu untuk menentukan masa depan.
Kedua, menjaga agar informasi tetap sehat. Sekarang kebohongan tidak lagi dilarang dengan sensor, tapi ditutupi dengan banyaknya informasi yang membanjir. Duta Pemilu mengajari teman untuk berhenti sejenak, memeriksa kebenaran, dan bertanya. Apakah ini kampanye yang jujur atau kampanye hitam? Atau, apakah ini kritik atau ujaran kebencian yang memakai isu suku dan agama? Ataukah ini aspirasi atau provokasi?
Ketiga, membuat latihan pemilu di sekolah. Kita tidak bisa mengajarkan pemilu dengan cara yang tidak demokratis. Jika pemilihan ketua OSIS saja masih ditunjuk oleh guru, bagaimana siswa mau percaya pada pemilu presiden? Karena itu Duta Pemilu hadirkan pemilu yang jujur dan adil di sekolah. Di situ ada daftar pemilih kelas, bilik suara, saksi, dan cara menyelesaikan sengketa.
Keempat, menjadi teman berpikir. Politik sering terasa jauh, menyeramkan, dan bahasanya sulit dipahami. Banyak siswa takut bertanya karena takut dianggap bodoh. Duta Pemilu hadir bukan sebagai orang yang paling pintar, tapi sebagai teman yang juga sedang belajar. Mereka membuka ruang aman untuk bertanya hal sederhana, seperti apakah golput itu salah? Apakah kritis pada calon pemimpin itu tidak melanggar hukum? Bagaimana cara mencoblos yang tepat?
Kelima, pemanfaatan ruang digital untuk hal baik. Jika ada pihak yang memakai TikTok untuk membodohi, maka Duta Pemilu memakai TikTok untuk mencerdaskan. Satu video pendek 30 detik tentang cara menolak politik uang atau tentang harga suara yang tidak seharga semangkuk bakso bisa lebih membekas daripada ceramah satu jam. Intinya, Duta Pemilu mesti hadirkan konten yang baik dan tidak melanggar aturan juga hukum.
Tentu tugas-tugas di atas tidak mudah. Duta Pemilu akan menghadapi teman yang tidak peduli, teman yang fanatik buta pada idolanya, dan algoritma media sosial yang lebih suka menyebar sensasi. Karena itu, Duta Pemilu tidak bisa bekerja sendirian. Mereka butuh bantuan kepala sekolah, forum guru, guru PPKn, guru BK, dan pengurus OSIS. Pemilu di sekolah hanya bisa hidup jika berkolaborasi dan dirawat bersama-sama.
Lebih praktis lagi, Duta Pemilu bisa menjalankan Gerakan 5 Pintar. Pintar Data, yaitu mengecek DPT. Pintar Kenali Calon, yaitu melihat visi, misi dan agenda serta rekam jejak calon. Pintar Prosedur, yaitu paham alur di TPS. Pintar Tolak, yaitu berani menolak politik uang. Dan Pintar Jaga, yaitu menjaga jari agar tidak menyebar berita bohong. Ini adalah dasar minimal menjadi warga negara yang baik.
Pada akhirnya, nasib demokrasi terutama pemilu bangsa kita tidak ditentukan di ruang rapat elit, tapi di bilik sunyi tempat para pemilih pemula yang cerdas dan paham hak juga kewajibannya. Di bilik TPS-lah negara diuji, apakah akan diwariskan sebagai tradisi edukasi yang mencerdaskan atau hanya kegiatan rutin lima tahunan? Duta Pemilu tidak mengubah negara dalam semalam, tapi mereka sedang merawat kewarasan lintas generasi. (*)






