Oleh: Syamsudin Kadir
Departemen Pendidikan Karakter Majelis Pengurus Pusat ICMI
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Rabu pagi, 21 Oktober 2026, langit Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Paman saya, Dr. Sahami Abdullah, M.Pd., telah pulang. Kabar itu jatuh seperti hujan pertama di musim kemarau, pelan, sunyi, tapi menghujam tanah hati kami keluarga Cereng dan Manggarai Barat di perantauan. Satu pelita telah padam, dan rumah besar kami mendadak terasa lebih gelap.
Maafkan saya, Bapak. Beberapa kali niat silaturahim itu tumbuh, lalu layu lagi oleh alasan yang selalu sama: kesibukan. Pada tahun 2022, suara Bapak masih jelas di telepon, “Nana Dir, saya ke Kuningan, kita jumpa di Gerbang Tol Ciperna ya, dekat rumah Nana Dir.” Saya bergegas, tapi takdir berkata lain, hp saya lowbat, suara Bapak hilang di ujung sinyal. Saya tidak tahu, itulah salam terakhir. Betapa kejamnya kata nanti, ia mencuri pertemuan yang tak akan pernah kembali.
Bapak lahir di Cereng, Manggarai Barat, NTT, pada tanggal 19 September 1955. Beliau adalah anak dari Bapak Embong dan Ibu Naya. Kakek Embong sudah lama meninggal di kampung Cereng, sedangkan Nenek Naya meninggal di Jakarta. Dari keluarga sederhana itulah Bapak tumbuh dan kemudian menjadi orang pertama di keluarga kami yang meraih gelar doktor.
Darah kami adalah darah yang sama. Bapak adalah adik sepupu Ayah saya, Bapak Abdul Tahami, yang sudah meninggal pada 26 Oktober 2020 lalu. Ibunya Ayah saya adalah kakak, ibunya Bapak adalah adik. Saudara perempuan yang melahirkan garis keturunan yang saling mengikat. Maka kepergian Bapak bukan kepergian orang jauh, ini adalah luka di dalam daging kami sendiri, sobek yang tak bisa dijahit oleh waktu.
Tahun 1984-1987, Bapak menempuh ilmu di Undana Kupang dengan penuh keterbatasan ekonomi. Setelah itu, pada tahun 1987, Bapak merantau dan menatap Jakarta dengan mata perantau yang basah sekaligus berani. Apa yang dibawa anak Cereng ke Jakarta saat itu? Tidak banyak, hanya sebuah koper usang dan doa ibu yang dipanjatkan diam-diam di ujung malam.
Tapi dari doa yang lirih itulah, Bapak menyeberangi lautan dan membangun hidupnya batu demi batu. Di Jakarta yang keras dan asing itu, Bapak memulai semuanya dari nol, tanpa banyak keluarga. Keberanian itu menjadi pintu pertama bagi perjalanan ilmu Bapak yang sangat panjang dan melelahkan, namun penuh berkah.
Di Jakarta, Bapak memilih jalan yang paling sepi dan paling setia: menjadi guru SD. Puluhan tahun Bapak berdiri di depan papan tulis yang berdebu kapur, di kelas yang mungkin tak pernah masuk koran. Di saat dunia mengejar panggung, Bapak setia pada ruang kelas kecil. Karena Bapak tahu, yang mengubah dunia bukan tepuk tangan, melainkan huruf-huruf kecil yang diajarkan dengan sabar.
Dan Bapak bukan hanya guru, Bapak adalah penulis yang tak pernah lelah menjaga ingatan. Sampai detik ini, di tangan saya masih tersimpan surat-surat tulisan tangan Bapak, dari medio 1980-an hingga 1990-an. Kertasnya telah menguning seperti daun di musim gugur, tapi tintanya masih berdenyut. Surat untuk Ayah saya, untuk keluarga di Cereng, ditulis dengan cinta yang tak pernah mengenal jarak.
Beberapa tahun lalu, dengan jantung berdebar, saya kabarkan kepada Bapak tentang surat-surat itu. Bapak terdiam, lalu terisak dalam haru, karena ingatannya sendiri telah sedikit lupa. “Terima kasih Nana, sangat bagus Nana simpan itu. Itu kenangan lama,” kata Bapak, pelan, hampir seperti doa. Di kalimat itu saya mendengar getar seorang perantau yang akhirnya menemukan kembali jejak kakinya sendiri.
Malam itu juga saya potret satu per satu surat itu, saya kirimkan cahayanya ke nomor Bapak. Saya ingin Bapak melihat, bahwa huruf Bapak tidak mati, ia hidup. Bahkan tangan saya melanjutkannya. Saya ingin Bapak tahu, bahwa apa yang Bapak tulis dengan tangan gemetar di perantauan dulu, kini menjadi pusaka bagi kami. Semoga foto-foto itu masih ada di hp Bapak, menjadi pelita kecil bagi keluarga di Jakarta dan Cereng juga Ceremba.
Bapak tak pernah lelah menuntut ilmu. Tahun 2007 Bapak lulus dari UNJ, lalu mengabdi sebagai dosen di UHAMKA, rumah akademik yang mencintainya. Di sana pula Bapak menapaki S3 hingga meraih gelar Doktor, dengan keringat dan air mata yang tak pernah diceritakan. Dari guru SD hingga Doktor, Bapak mendaki bukan dengan sayap, tapi dengan luka di kaki yang tak pernah dikeluhkan.
Bapak adalah yang pertama. Doktor pertama dari keluarga besar Cereng, alumni SDK Cereng, sekolah tua yang dindingnya menyimpan ribuan mimpi anak kampung. Dari bangku kayu SDK Cereng yang reot hingga podium Doktor di Jakarta yang megah, Bapak telah menulis ulang takdir kami. Bapak telah berkata tanpa suara, bahwa anak Cereng pun bisa, bahwa anak kampung pun berhak menatap langit.
Bagi kami yang muda, Bapak adalah mercusuar di tengah laut yang gelap. Ketika banyak dari kami hampir tenggelam oleh arus dunia dana materi, cahaya Bapak menuntun pulang: jangan lupa tujuan mencari ilmu. Bapak mengajarkan bahwa pendidikan bukan soal gelar yang dipajang di dinding, tapi soal bagaimana kita tetap menjadi manusia yang ingat tujuan dan yang setia pada akar.
Kini Bapak telah benar-benar pulang, meninggalkan istri tercinta asli Kuningan, Jawa Barat, dan dua bintang hati, dr. Dewi Florensi dan Rando SB. Selamat jalan, Bapak Sahami Abdullah. Selamat jalan, penjaga huruf, penjaga kelas, penjaga cinta dari Cereng. Tidurlah dengan tenang, biarlah surat-surat Bapak yang kini kami jaga, menjadi doa yang tak pernah selesai, menjadi sedekah jariyah yang terus mengalir hingga ke surga-Nya! (*)






