Opini

Kenangan Bersama Mas Novan Nurwanto

47
×

Kenangan Bersama Mas Novan Nurwanto

Share this article
IMG 20260921 WA0003
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”

AHAD sore, 20 September 2026, langit Jakarta mendadak terasa lebih sendu. Sebuah kabar melintas di status WhatsApp Bang Deny Prayitno, senior saya di Bandung. “Turut berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah Bapak Novan Nurwanto.” Kabar yang pelan tapi menghentak, seperti doa yang jatuh tepat di jantung. Saya baca berulang, berharap itu bukan nama yang sama.

Rupanya duka itu sudah menyebar lebih cepat dari angin sore. Dari grup ke grup, dari hati ke hati, nama Mas Novan disebut dengan air mata. Saya tak tahu jam berapa tepatnya ia berpulang menghadap Rabbnya. Yang saya tahu, sore ini Indonesia kehilangan satu lagi cahaya kebaikan. Dan saya kehilangan seorang sahabat yang dulu mengajari arti keteduhan dan perjuangan di tanah rantauan.

Ajal yang Terjadwal

Allah telah mengingatkan kita dengan firman yang sangat jujur dan menggetarkan. “Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta ditunda atau dimajukan walau sesaat pun.” Itulah janji yang pasti dalam al-Quran Surah al-A’raf ayat 34. Ajal itu rahasia, ia datang tanpa mengetuk pintu, tanpa menunggu kita siap. Bila Ia berkehendak, maka terjadilah.

Allah menambahkan lagi dalam Surah al-Munafiqun ayat 11. “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila waktunya telah tiba. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Ayat itu hari ini terasa begitu dekat, begitu nyata di pelupuk mata. Kematian adalah kepastian yang tidak bisa dinegosiasi oleh siapapun. Kematian tak mengenal siaran tunda, itu benar-benar nyata.

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Hari ini giliran Mas Novan, esok lusa mungkin giliran kita. “Ya Allah, bimbinglah kami!” Kematian bukan akhir dari jalan cinta, ia hanya pintu pulang yang berbeda. Yang tertinggal adalah kenangan, dan kenangan Mas Novan terlalu indah untuk dilupakan. Saya mengenalnya di Bandung, antara tahun 2002 sampai 2010 yang penuh makna. Cicadas yang ramai dan padat itu jadi saksi.

Baca Juga :  Desakralisasi Gelar dan Profesor Berhala

Kenangan Indah

Kenangan pertama yang tak pernah hilang adalah senyumnya yang tulus. Setiap bersua, ia selalu menyiramkan senyum sebelum kata-kata keluar dari bibirnya. Senyum yang tidak dibuat-buat, senyum yang lahir dari hati yang bersih. Bertemu dengannya seperti disiram air sejuk di tengah teriknya perjuangan mahasiswa kala itu. Senyum itu kini saya cari, tapi hanya tinggal di foto dan ingatan.

Kenangan kedua adalah semangatnya yang tak pernah padam untuk berbagi motivasi. Ia bukan sekadar motivator yang pandai bicara di atas panggung. Ia adalah kakak yang menarik tangan kami untuk terus berbuat baik. Kata-katanya sederhana, tapi mampu membangkitkan orang yang hampir mengalah. Bersamanya, kami percaya bahwa kebaikan sekecil apapun tetap berharga.

Kenangan ketiga adalah tentang buku, ia selalu datang membawa buku baru. Di tasnya selalu ada ilmu yang baru dibuka, masih harum bau percetakan. Saya menjadi salah satu pelanggannya, pembacanya, peminjam setianya. Walau hanya dipinjam puluhan menit di pelataran masjid kampus, semangat langsung naik. Buku di tangannya bukan dagangan, ia adalah wasilah untuk mencerdaskan banyak jiwa dan akal.

Kenangan keempat adalah tentang sapaannya yang tak pernah putus oleh jarak. Seingat saya, pertemuan terakhir kami secara langsung adalah tahun 2010. Setelah itu kesibukan membawa kami ke jalan masing-masing. Namun silaturahim tidak pernah benar-benar putus, ia sesekali tetap menyapa dengan hangat. Seolah ingin berkata, jarak boleh jauh, tapi persaudaraan jangan pernah hilang.

Sekitar dua tahun lalu, 2024, saya menyapanya lewat Facebook dengan rasa rindu. Ia masih sama seperti dulu, murah senyum bahkan lewat tulisan. Tapi energinya terasa lebih dahsyat, lebih matang, lebih bijaksana. Kami sempat berbincang untuk menulis buku bersama, tentang dakwah, pemuda dan motivasi. Rencana itu tertunda karena kesibukan, dan kini rencana itu menjadi rindu menjadi yang abadi.

Baca Juga :  Terima Kasih Pak JK, Terima Kasih PMI

Saya menyesal, mengapa tidak segera menyapa lagi setelah janji itu. Mengapa kesibukan selalu menjadi alasan untuk menunda kebaikan. Padahal ajal tidak pernah memberi tahu kapan ia akan menjemput. Kini saya hanya bisa menatap layar, mengirim doa yang tak lagi bisa dibalas kecuali oleh-Nya. “Ya Allah, betapa kami sering lalai menjaga orang baik di sekitar kami. Orang baik seperti Mas Novan!”

Mas Novan, saya bersaksi di hadapan Allah dan manusia yang membaca tulisan ini. Engkau adalah orang baik, engkau adalah hamba yang sholeh dan tulus. Engkau adalah inspirasi bagi banyak anak muda Indonesia yang haus teladan. Engkau pemilik optimisme dan semangat yang tak pernah mati. Dan itu jauh lebih mahal dari apapun yang bisa dibeli dengan uang bahkan ditukar dengan emas.

Kini Allah lebih mencintaimu, Allah memanggilmu lebih cepat dari kami. Mungkin surga sudah terlalu rindu dengan senyum dan buku-buku yang Mas pinjamkan kala itu. Mungkin malaikat sudah ingin mendengar motivasimu yang lembut itu. Pergilah dengan tenang Mas, tugasmu di dunia telah selesai dengan indah. Tugas kami yang masih hidup untuk melanjutkan kebaikan yang telah engkau mulai. Ya, melanjutkan apa yang telah dimulai.

Jika boleh jujur, air mata ini sulit untuk ditahan. Bukan karena engkau hilang, tapi karena kami kehilangan cara untuk belajar tentang keikhlasan. Tentang bagaimana menjadi baik tanpa harus terlihat baik. Tentang bagaimana menjadi kaya dengan isi buku, di samping harta yang halal dan diberkahi oleh Allah. Dan tentang bagaimana tetap menyapa meski berbeda kapal dan dunia sudah terlalu bising.

Untuk keluarga, sahabat dan kolega yang ditinggalkan, semoga Allah memberi ketabahan yang luas. Semoga kesabaran menjadi selimut di malam-malam yang terasa panjang. Semoga kekuatan menjadi teman di hari-hari yang terasa berat. Karena yang pergi telah mulia, yang ditinggalkan harus lebih mulia. Doa kami dari jauh, semoga Allah menjaga kalian dalam ridha dan kasih-Nya.

Baca Juga :  Selamat Milad Ke-1 “gemamadani.com”

Sungguh, meninggalnya Mas Novan mengajari kami satu hal yang paling dalam. Bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita tinggal, tapi seberapa dalam kita berbekas. Mas Novan tidak lama di dunia, tapi bekasnya begitu dalam di hati kami. Bekas senyum, bekas buku, bekas motivasi yang tak pernah usang. Dan bekas itulah yang akan terus hidup meski jasad telah tiada. Itu juga yang menjadi bait doa panjang.

Selamat jalan Mas Novan Nurwanto, selamat pulang menuju takdir keabadian. Surga adalah tempat terbaik untuk senyum seindah senyum-Mu. Di sana tidak ada lagi lelah, tidak ada bising, dan tidak ada lagi perpisahan. Kami di sini akan terus mengenangmu sebagai cahaya yang tak pernah padam. Allahumaghfir untukmu, kakak, sahabat, motivator dan inspirator kami selamanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *