Opini

Pemilu Kolonial dan Aktor Bermental Dubuk

0
×

Pemilu Kolonial dan Aktor Bermental Dubuk

Share this article
IMG 20261030 130316
Syamsudin Kadir

Oleh: Syamsudin Kadir

Direktur LITERASIA-Literasi Indonesia

Pemilu Israel 27 Oktober 2026 adalah panggung yang ramai tapi tanpa lakon baru. Data valid KPU Israel mencatat blok Netanyahu 53 kursi, blok Eisenkot 48 kursi, dan partai Arab 19 kursi dari 120 kursi. Tidak ada yang mencapai 61 kursi mayoritas. Partisipasi 77,7% tertinggi sejak 1999 dengan partisipasi tentara 79,9% tidak melahirkan pemerintahan. Panggungnya penuh, ceritanya buntu.

Angkanya memperjelas kebuntuan itu. Likud tetap terbesar dengan 27 kursi turun dari 32 kursi 2022, disusul Yashar 21 kursi. Pada hitung sementara 66,2% kotak suara, Netanyahu sempat 56 dan Arab 16, sebelum final mengunci 53-48-19. Mesin mobilisasi bekerja maksimal, tapi mesin koalisi macet total. Semua orang datang ke bilik suara, tidak ada yang pulang dengan kekuasaan.

Kebuntuan itu segera berubah menjadi paranoia negara. Ketua KPU Hakim Noam Sohlberg meminta Shin Bet menyelidiki dugaan intervensi asing dari Qatar dan Turki yang menyasar komunitas Arab. Di negara normal, memanggil dinas rahasia untuk menyelidiki pemilih adalah skandal. Di negara kolonial, ini adalah cara menjaga kemurnian panggung Yahudi dari suara yang dianggap liar.

Secara matematika, ada jalan keluar yang rasional. Jika Eisenkot bergabung dengan 19 kursi Arab, ia mengantongi 67 kursi anti-Netanyahu. Secara politik, jalan itu ditutup rapat. Avigdor Liberman dan Naftali Bennett menolak koalisi yang didukung Arab. Inilah batas demokrasi kolonial. Suara Arab boleh dihitung di kotak suara, tapi haram menentukan di ruang koalisi. Demokrasi berhenti di pintu rumah Palestina.

Eisenkot sendiri yang mengunci pintu itu lebih rapat. Ia mensyaratkan partai Arab mengakui Israel sebagai negara Yahudi dan Hamas sebagai organisasi teroris. Ini bukan jembatan, melainkan tembok yang sengaja dibangun. Dengan syarat itu, Eisenkot berkata kepada publiknya: saya lebih memilih buntu bersama Liberman dan Bennett daripada menang bersama Arab. Itu kalkulasi rasional di dalam logika apartheid.

Baca Juga : 

Di titik ini, kita butuh kacamata pakar untuk melihat panggung belakang. Rami Khouri dari American University of Beirut menyebut Israel meskipun terpecah di dalam negeri, bersatu dalam pendekatannya terhadap Palestina, negara Arab tetangga, dan Iran. Akar dukungan Likud adalah tradisi Zionis berupa apartheid, aneksasi, ekspansi dan rasisme. Perpecahan Netanyahu versus Eisenkot bukan perpecahan ideologi, melainkan perpecahan metode.

Nizar Sadawi dari TRT World menambahkan analisis tajam tentang panggung regional. Menurutnya, pemilu mungkin mengubah cara mengelola konfrontasi dengan Iran, tapi tidak tujuan strategisnya. Ada konsensus lintas spektrum bahwa Iran adalah ancaman utama. Bedanya, Netanyahu memilih tekanan militer frontal yang berisik, sementara Eisenkot memilih kalkulasi strategis dan koordinasi dengan Washington yang lebih senyap dan rapi.

Untuk panggung Palestina, Sadawi membongkar ilusi terbesar. Perdebatan politik Israel bukan tentang bagaimana mengakhiri pendudukan, melainkan bagaimana mengelolanya secara efisien. Pemerintah Netanyahu yang bergantung kanan jauh akan melanjutkan perluasan permukiman. Pemerintah Eisenkot mungkin menahan diri terhadap kekerasan pemukim demi citra internasional, tapi tidak akan menghentikan mesin pendudukan itu sendiri.

Data PBB adalah juri paling jujur untuk menguji klaim itu. Pada 2025 tercatat sekitar 1.830 serangan pemukim, dan awal 2026 sekitar 190 serangan per bulan. Menhan Israel Katz pada Juli 2025 menyebut 104 permukiman baru disetujui, sehingga total melonjak dari 127 menjadi 231 permukiman ilegal di Tepi Barat. Mesin buldoser itu tidak peduli siapa aktor yang duduk di kursi Perdana Menteri.

Maka kita bisa memberi nama pada dua aktor ini dengan jujur. Netanyahu adalah penjajah yang tampil apa adanya, dengan jubah mesianik dan doktrin kekuatan absolut. Data Gaza sejak gencatan senjata setahun lalu mencatat 1.493 warga Palestina terbunuh hingga 12 Oktober, total kumulatif 74.382 jiwa, sementara Israel menahan hampir dua pertiga wilayah Gaza. Ia adalah wajah penjajahan yang berteriak.

Baca Juga :  Aksi Nyata Muhammadiyah untuk NTT

Eisenkot adalah penjajah dengan topeng teknokrat. Ia adalah arsitek Doktrin Dahiya 2008, yang menyatakan apa yang terjadi di Dahiya Beirut 2006 akan terjadi di setiap desa yang menembak Israel, dengan kekuatan tidak proporsional dan penghancuran besar. Ia duduk di kabinet perang Oktober 2023 hingga Juni 2024 ketika puluhan ribu warga Gaza terbunuh, dan mundur bukan karena korban, tapi karena kegagalan strategi.

Kesimpulan saya sederhana dan tegas. Jangan tertipu pergantian aktor di panggung depan jika naskah di panggung belakang tetap sama. Eisenkot menyebut prinsip adanya negara Palestina sebagai kesalahan dan permukiman Yahudi sebagai keniscayaan. Bila pun benar-benar ada pergantian, maka mengganti Netanyahu dengan Eisenkot bukan berarti akhir kolonialisme. Sebab sutradaranya sama-sama masih hipokrit dan bermental dubuk. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *