Opini

Syukur di Balik Keterbatasan

11
×

Syukur di Balik Keterbatasan

Share this article
IMG 20260826 WA0005
Syamsudin Kadir Penulis Buku "Ketka Alloh Memilihmu" Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Ketika Allah Memilihmu”

Bersyukurlah saudaraku yang matanya tertutup dari dunia. Ada rahmat yang berjalan diam-diam di balik gelap itu. Kau tidak melihat iklan yang menjerit, tidak melihat tatapan yang menilai, tidak melihat pamer yang membuat hati lelah. Tuhan menutup satu pintu agar pintu lain terbuka: pintu ke dalam, tempat cahaya tidak butuh lampu.

Bersyukurlah saudaraku yang telinganya memilih diam. Kau tidak menangkap bisik kotor, tidak menyimpan kata “celaan” yang dilempar sebagai hinaan, tidak menampung amarah yang dilempar seperti batu. Sunyimu adalah benteng. Di sana, doa tidak terdistraksi. Di sana, nama Allah bisa diulang pelan-pelan sampai menetes ke tulang.

Kita sering mengukur sempurna dari lengkap. Dua mata, dua telinga, dua kaki yang berlari. Padahal Allah tidak pernah gagal menciptakan. Setiap garis takdir-Nya dijahit dengan hikmah yang tidak selalu kita pahami di awal. Yang kita sebut kurang, mungkin justru pagar agar kita tidak jatuh lebih dalam.

Lihatlah bagaimana keterbatasan memaksa kita berjalan lebih pelan. Dan di dalam pelan itu, ada waktu untuk merasa. Meraba huruf Al-Qur’an dengan ujung jari. Mendengarkan azan sampai ke dada, bukan hanya ke telinga. Mengingat wajah orang bukan dari foto, tapi dari suara, dari sentuhan, dari cara dia menyebut namamu.

Allah tidak sedang menghukum ketika Dia mengambil sesuatu. Dia sedang menata ulang. Seperti tukang emas yang melelehkan perhiasan lama agar jadi mahkota baru. Sakit prosesnya, tapi hasilnya tidak akan mengecewakan. Karena Dia yang menciptakan, Dia paling tahu bahan apa yang paling kuat di dalam dirimu.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim ayat 7). Janji ini tidak bersyarat. Tidak bilang “jika kamu sempurna dulu”. Tidak bilang “jika kamu sehat dulu”. Janjinya sederhana: syukur dulu, maka tambah akan datang. Tambah sabar, tambah tenang, tambah cara Allah menolong yang tidak pernah kita duga.

Baca Juga :  Menggapai Hudan, Syifa dan Syafa’at al-Qur’an

Menjadi hamba yang bersyukur bukan berarti memaksa senyum di atas luka. Bersyukur adalah jujur. “Ya Allah, ini berat. Tapi aku percaya Engkau tidak salah alamat menitipkan ujian ini kepadaku. Aku terima, karena aku tahu Tangan yang memberi juga Tangan yang mengangkat.”

Teruslah berbuat, meski dengan langkah tertatih. Menulis dengan suara. Berdagang dengan hati. Mengajar dengan kesabaran. Mengasuh dengan doa. Dunia butuh bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa memenjarakan cahaya. Justru seringnya, cahaya paling terang keluar dari celah yang retak.

Maka hari ini, pejamkan mata sejenak. Rasakan napas. Rasakan bahwa kita masih diberi kesempatan sujud. Itu saja sudah nikmat yang tidak bisa dibayar toko manapun. Alhamdulillah. Karena pada akhirnya, kesempurnaan bukan tentang tidak kurang apa-apa. Kesempurnaan adalah ketika kita bisa melihat Allah di setiap kurang, dan tetap berkata: “Cukup Engkau ya Rabb”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *