Opini

Mari Sediakan Waktu untuk Anak-anak Kita!

14
×

Mari Sediakan Waktu untuk Anak-anak Kita!

Share this article
IMG 20260828 WA0047
Syamsudin Kadir berfoto bersama keluarga. Penulis Buku "Aku, Dia dan Cinta"

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Aku, Dia dan Cinta”

ADA kalimat yang menampar pelan, tapi gema-nya tinggal lama dan mengendap di dada. “Jika kamu tidak punya waktu untuk mendidik anak-anakmu, ketahuilah bahwa di luar sana ada yang siap memberikan seluruh waktunya untuk merusak mereka.” Ia bukan ancaman yang dilempar untuk menakut-nakuti. Ia cermin. Dunia tidak pernah menunggu kita siap. Ruang yang kita kosongkan karena alasan sibuk, lelah, atau “nanti saja” akan segera diisi oleh suara lain, tangan lain, nilai lain yang tidak pernah kita pilih.

Waktu bersama anak bukan sisa dari jadwal yang padat. Ia bukan hadiah yang diberikan setelah kerjaan selesai, setelah notifikasi dibalas, setelah rapat terakhir ditutup dan energi sudah habis. Waktu itu adalah benih yang harus disiram setiap hari, bukan disemprot seminggu sekali. Disiram hari ini dengan perhatian, baru kita lihat daunnya sepuluh tahun lagi dalam bentuk cara mereka bicara, cara mereka gagal, cara mereka mencintai. Menundanya berarti menunda siapa mereka akan menjadi, dan itu keputusan yang tidak bisa kita tarik kembali.

Kita sering menukar hadir dengan hadiah. Mengganti cerita malam dengan mainan baru yang cepat membosankan. Mengganti tanya-jawab di dapur makan dengan layar yang menyala sendiri dan mengundang mereka masuk ke dunia orang lain. Kita pikir cukup memberi, cukup membayari, cukup menyediakan. Padahal yang mereka cari sejak lahir adalah dilihat. Dilihat matanya, didengar suaranya yang belum rapi, diakui perasaannya yang kadang berlebihan. Karena anak tidak butuh kita sempurna, mereka butuh kita hadir.

Anak-anak tidak butuh orang tua yang tak pernah salah. Mereka butuh saksi. Seseorang yang melihat luka kecil di lutut mereka dan meniupnya tanpa buru-buru. Seseorang yang tertawa bersama tawa konyol saat mereka jatuh, lalu mengajari mereka bangun lagi. Seseorang yang sabar menjawab pertanyaan aneh jam delapan malam tentang bintang yang jatuh ke laut, tentang mengapa awan menangis. Kehadiran kecil yang konsisten itu kelak akan menjadi rumah di kepala mereka. Tempat mereka pulang saat dunia luar terasa dingin.

Baca Juga :  Optimisme PKB Manggarai Barat Menyongsong Pemilu 2029

Di luar sana, ada banyak tangan yang memang sengaja menunggu celah. Bukan monster bertaring yang datang mengetuk pintu. Ia lebih halus. Ia bisa berupa algoritma yang mempelajari apa yang membuat mereka terpaku tiga detik lebih lama. Bisa berupa teman yang mengajari cara melukai agar terlihat keren dan diterima. Bisa berupa konten yang membisikkan bahwa nilai mereka diukur dari jumlah suka, dari tubuh, dari prestasi, dari seberapa keras mereka bisa mengabaikan perasaan sendiri. Pengaruh itu tidak berteriak. Ia berbisik, setiap hari.

Dan mereka punya waktu. Banyak waktu. Punya kesabaran untuk merusak pelan-pelan sampai kita tidak sadar. Satu video yang membuat iri. Satu candaan yang menormalkan kejam. Satu perbandingan yang menanam rasa tidak cukup. Awalnya hanya tawa. Lama-lama menjadi keyakinan. Lama-lama menjadi cara mereka memandang diri sendiri di cermin. Saat itu terjadi, memperbaiki butuh waktu sepuluh kali lipat dari waktu yang kita tunda di awal.

Mendidik bukan ceramah satu jam di akhir pekan lalu selesai. Mendidik adalah pilihan kecil yang diulang. Ia adalah ketika kita memilih mematikan ponsel dan menaruhnya terbalik saat ia bercerita tentang hari yang berantakan. Mendidik adalah ketika kita berani bilang “Maaf, ayah salah” di depan mereka, agar mereka belajar bahwa salah bukan akhir dunia. Mendidik adalah mengulang nilai yang sama dengan cara yang berbeda-beda, lewat dongeng, lewat sikap, lewat diam kita saat marah, sampai nilai itu masuk ke tulang dan menjadi kompas mereka saat kelak kita tidak ada.

Puisi hidup anak ditulis dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Dari cara kita marah lalu cara kita meredam. Dari cara kita memaafkan orang yang menyakiti kita. Dari buku apa yang kita baca di ruang tamu dan tontonan apa yang kita tertawakan bersama. Dari tawa kita saat gagal dan cara kita bangkit lagi besok pagi. Mereka menyerap semuanya bukan karena kita menyuruh, tapi karena kita ada di dekatnya. Kehadiran adalah kurikulum pertama dan terakhir. Sisanya hanya catatan kaki.

Baca Juga :  Runtuhnya Wibawa Kiai di Bawah Teror Pencabul Radikal

Maka mari jujur pada diri sendiri. Sibuk itu nyata. Lelah itu nyata. Tagihan, target, dan tuntutan tidak akan hilang. Tapi ada satu hal yang lebih nyata: kita hanya mendapat satu kali masa kecil dari mereka. Tidak ada undangan ulang, tidak ada sesi tambahan. Jika hari ini kita menukar dua puluh menit mengobrol dengan dua puluh menit menggulir, maka esok kita tidak bisa membeli kembali dua puluh menit itu dengan harga berapapun. Waktu tidak bisa dicicil. Ia hanya bisa dihabiskan, entah untuk membangun atau untuk menyesal.

Akhirnya, pilihan ini sederhana dan berat. Kita bisa menjadi taman pertama bagi anak-anak kita, tempat mereka belajar menanam, menyiram, dan memetik. Atau kita membiarkan orang lain menanam gulma di halaman kita. Dunia akan terus menawarkan guru-guru liarnya, cepat, bising, dan tanpa tanggung jawab. Tugas kita adalah memastikan suara kita lebih dulu sampai, lebih hangat, lebih sering didengar. Karena pada akhirnya, anak-anak akan mengingat siapa yang duduk di samping mereka, menggenggam tangan mereka, saat dunia terasa terlalu besar. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *