Oleh: Desnas Artanti
Mahasiswi Pasca Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto
HADIRNYA Artificial Intelligence (AI) di ruang kelas saat ini sering kali disambut dengan dua reaksi ekstrem, ketakutan berlebih atau euforia yang mengabaikan dampak panjangnya. Di satu sisi, banyak guru merasa terancam dan khawatir aplikasi berbasis algoritma cerdas seperti ChatGPT, Gemini akan membuat siswa malas berpikir kritis. Di sisi lain, siswa justru menyambutnya gembira sebagai “Penolong ajaib” yang siap menyelesaikan segala kerumitan tugas sekolah hanya dalam hitungan detik.
Fenomena ini bukan lagi sekadar wacana teoretis di ruang-ruang guru atau diskusi pada rapat sekolah. Di lapangan, contoh riil sudah sangat mudah kita temui sehari-hari. Ketika guru memberikan tugas membuat karangan menulis cerita, merangkum bacaan, atau menjelaskan makna puisi, tidak sedikit siswa yang langsung memasukkan instruksi (prompt) ke dalam aplikasi AI.
Jawaban yang dihasilkan kemudian disalin mentah-mentah dan dikumpulkan tanpa melewati proses dibaca atau dicerna ulang. Akibatnya, sering kali ditemukan gaya bahasa tulisan siswa yang mendadak berubah menjadi sangat kaku, penuh istilah asing, dan kehilangan “rasa” atau ciri khas bahasa remaja mereka, dan mereka sendiri tidak paham bahasa tulisan tersebut ketika ditanyakan.
Pertanyaan Penting
Namun, benarkah AI adalah musuh utama yang harus disingkirkan dari masa depan pendidikan kita? Ataukah kita sebagai pendidik yang belum menemukan cara tepat untuk menyapa dan mengarahkannya?
Persoalan utama dari semakin luasnya penggunaan AI di sekolah sebenarnya bukan sekadar tentang kecanggihan teknologi atau kekhawatiran siswa yang mencontek saat ujian melainkan tentang etika dan psikologi komunikasi. Ketika seorang siswa menyerahkan seluruh proses berpikirnya pada algoritma, hal mendasar yang hilang bukan hanya sekadar nilai kejujuran akademis.
Hal yang jauh lebih berbahaya dan tergerus adalah komunikasi intrapersonal sebuah proses dialog mendalam dengan diri sendiri untuk merenungi masalah, mengolah emosi, mempertanyakan gagasan, dan menyusun pemikiran secara mandiri.
Secara psikologis, proses belajar yang sejati terjadi ketika ada siklus umpan balik (feedback loop) yang intensif. Dalam konteks komunikasi kognitif, momen ketika siswa kebingungan, mencoba merangkai kalimat, melakukan kesalahan, dan kemudian memperbaikinya setelah mendapat arahan guru adalah momen paling krusial dalam pembentukan kematangan mental. Ketika fase “perjuangan kognitif” ini dipotong oleh jawaban serba instan dari AI, otak siswa dilatih untuk hanya menjadi penerima pasif, bukan pengolah pesan yang aktif.
Ruang kelas sejatinya adalah panggung interaksi manusiawi yang hidup. Tempat di mana tatap mata, nada bicara, serta empati seorang guru membimbing siswa memahami kompleksitas kehidupan, bukan sekadar menghafal rumus demi angka di atas kertas.
Realitas saat ini menunjukkan bahwa ketika siswa menghadapi kesulitan belajar, refleks pertama mereka bukan lagi mengangkat tangan untuk berdiskusi dengan guru atau bertanya pada teman sebangkunya, melainkan bertanya pada layar gawai.
Kondisi ini perlahan membangun jarak emosional yang dingin di dalam kelas. Siswa menjadi terbiasa dengan interaksi satu arah yang serba seragam tanpa kehangatan sosial. Hubungan antara guru dan siswa yang seharusnya didasari oleh dinamika interpersonal yang kaya, berisiko berubah menjadi sekedar hubungan transaksi tugas, guru memberi tugas, siswa meminta AI mengerjakan, dan guru memproses nilainya.
Padahal, pembentukan karakter, kedewasaan, dan etika tidak akan pernah bisa diajarkan oleh baris-baris kode algoritma. Nilai-nilai tersebut hanya dapat tumbuh dan berakar melalui keteladanan langsung, rasa saling percaya, serta relasi interpersonal yang hangat antara guru dan murid.
Menyapa AI di ruang kelas tentu bukan berarti kita harus melarang, memusuhi, atau menyimpan HP di dalam tas selama pelajaran berlansung. Tindakan represif semacam itu bukanlah solusi jangka panjang di era digital. Hal yang sangat kita butuhkan saat ini adalah meretas pendekatan komunikasi yang lebih persuasif, adaptif, dan humanis.
Transformasi ini membutuhkan kesadaran kolektif, tidak hanya dari guru di sekolah tetapi juga dari lingkungan keluarga. Orang tua perlu dilibatkan untuk memahami bahwa pendampingan belajar di rumah bukan lagi sekadar memastikan anak menyelesaikan tugas, melainkan membangun dialog kritis tentang bagaimana anak menggunakan teknologinya. Komunikasi terbuka di rumah akan memperkuat benteng etika anak ketika mereka berselancar di dunia digital.
Sebagai langkah konkret di lapangan, guru perlu mengalihkan pola dan pendekatan dalam memberikan tugas. Meminta siswa sekadar merangkum teori atau menjawab pertanyaan berbasis hafalan sudah sama sekali tidak relevan, sebab AI mampu mengerjakannya jauh lebih cepat dan sempurna. Tugas sekolah kini harus didesain berbasis pada pengalaman subjektif dan kontekstual.
Misalnya, guru dapat meminta siswa mengaitkan konsep materi pelajaran dengan pengalaman nyata yang terjadi di lingkungan keluarga atau masyarakat sekitar mereka. Selain itu, porsi penilaian perlu digeser ke arah diskusi interaktif, tukar pikiran, dan presentasi tatap muka di dalam kelas, dimana siswa ditantang untuk mempertahankan argumen dan gagasan mereka secara lisan. Di sinilah guru berperan sebagai fasilitator komunikasi yang mengasah kepekaan emosional, nalar kritis, dan etika berpendapat.
Teknologi boleh saja berkembang secepat kilat dan menawarkan beragam kemudahan tanpa batas, tetapi ruang kelas harus tetap dijaga sebagai tempat yang paling manusiawi. AI hadir untuk membantu kita bekerja dan belajar lebih efisien, bukan untuk mengambil alih kehangatan interaksi, kepekaan emosional, serta proses panjang pendewasaan karakter anak-anak kita. (*)






