Opini

Mengenal Yos Hendra: Tokoh Muda yang Terinspirasi KDM

16
×

Mengenal Yos Hendra: Tokoh Muda yang Terinspirasi KDM

Share this article
IMG 20260914 WA0018
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku ‘Inspirator Muda Indonesia”

NAMANYA Yos Hendra. Lahir di Cirebon, Jawa Barat, Selasa 14 November 1989. Tanah kelahiran memberinya logat jujur, dan waktu menempanya menjadi pemuda yang gelisah pada kebaikan. Tahun 2024, ia menemukan rumah perjuangannya. Di Soulmate Kang Dedimulyadi, SKD, ia menaruh langkah.

Jabatan bukan tujuan, hanya amanah yang menumpang di pundak. Ia dipercaya sebagai Sekretaris SKD Kabupaten Karawang, juga Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat SKD. Dua amanah, satu arah: menguatkan barisan. Karena baginya, organisasi adalah jembatan, bukan singgasana.

Kang Yos, demikian ia akrab disapa, bukan pemuda yang menunggu dipanggil. Ia yang lebih dulu hadir saat masyarakat butuh. Kepeduliannya lahir dari mata yang sering melihat, dan hati yang tidak sanggup berpaling. Dunia organisasi baginya adalah sekolah kehidupan. Tempat belajar menjadi manusia untuk manusia lain.

Bergabung dengan SKD bukan kebetulan. Itu keputusan yang lahir dari kekaguman. Kagum pada pemimpin yang tidak berjarak, yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. SKD baginya bukan sekadar nama. Ia adalah ruang untuk bergerak bersama.

Sebagai sekretaris, ia merajut koordinasi. Menyambungkan satu suara ke suara lain. Memastikan visi tidak berhenti di atas kertas. Tapi turun ke jalan, ke pasar, ke kampung. Kerja nyata menjadi bahasa utama. Karena kata tanpa kerja, sama saja kosong.

Mengapa memilih SKD? “Karena ia melihat keteladanan yang langka”, katanya. Pemimpin yang sederhana, hadir, dan memberi solusi. SKD adalah wadah pemuda untuk peduli. Untuk membangun, bukan hanya bicara. Untuk mengabdi, bukan hanya menuntut.

Generasi muda, kata dia, harus mengambil peran. Tidak bisa hanya menonton dari kejauhan. Bergabung di SKD adalah ikhtiar. Ikhtiar untuk belajar, berkontribusi, dan menumbuh. Agar masa depan sejarah tidak hanya diwarisi, tapi juga diperjuangkan sejak dini.

Baca Juga :  Literasi Bola dan Inspirasi Dari Lamine Yamal

Saat ditanya, “Mengapa SKD jatuh cinta pada KDM?”, ia menjawab singkat: karena yang dicintai bukan kekuasaannya. Yang dicintai adalah caranya melayani. Merakyat, mendengar, dan turun langsung. Peduli pada budaya, lingkungan, dan pendidikan. Cinta itu lahir dari bukti, bukan janji.

Bagi Kang Yos, begitu juga SKD, KDM adalah cermin kepemimpinan sejati. Bukan tentang seberapa tinggi kursi, tapi seberapa dalam keberpihakan. Keberanian hadir di tengah rakyat. Ketulusan yang tidak diukur kamera. Itulah yang membuat hati bergerak.

Lalu apa upaya SKD saat ini dan ke depan? Kata dia, SKD menjadi jembatan antara rakyat dan pemimpin. Membangun organisasi yang solid dan hidup. Menggelar kegiatan sosial tanpa pamrih. Menyerap aspirasi, lalu mengantarkannya pulang. Dan mengedukasi bahwa membangun adalah tugas bersama.

“Dukungan terbaik bukan lewat ucapan,” katanya. “Tapi lewat kerja nyata dan kepedulian.” SKD memilih bergerak dalam senyap dan pasti. Menanam kebaikan di lingkungan masing-masing. Dengan semangat bersatu, peduli, dan bekerja. Karena perubahan besar lahir dari langkah kecil.

Bagi dia, kepemimpinan KDM di Jawa Barat lahir dengan karakter yang membumi. Turun langsung, melihat dari bawah. Menyelesaikan masalah dengan pendekatan budaya. Mendengar sebelum memutuskan. Bekerja bersama sebelum memerintah.

“Gaya kepemimpinan KDM itu menjadi guru bagi banyak pemuda. Bahwa politik bukan soal panggung. Pemerintahan bukan soal kuasa. Tapi tentang pengabdian yang diulang setiap hari. Tentang hadir ketika orang lain memilih absen. Tentang melayani ketika orang lain memilih jarak,” jelasnya.

Program unggulan KDM terasa di nadi masyarakat. Pelayanan yang menyentuh langsung. Perhatian pada pendidikan dan kaum kecil. Pelestarian budaya yang tidak dilupakan zaman. Kegiatan sosial yang datang tanpa diundang. Semua karena pemimpinnya mau berjalan. Itulah KDM.

Baca Juga :  Menjadi Umar di Zaman Baru: Keteladanan, Rasionalitas dan Hidayah

Nilai utama bukan hanya pada program formal. Tapi pada cara sang pemimpin memanusiakan. Pembangunan tidak cukup dengan kebijakan. Ia butuh kepedulian, keteladanan, dan keberpihakan. Dan itu semua Kang Yos lihat dan pelajari. Lalu ia membawa pulang ke organisasinya, SKD.

“Bagi saya, SKD adalah amanah,” ucapnya. “Perjuangan bukan tentang siapa paling depan. Tapi siapa paling siap memberi manfaat.” Bersama SKD, ia ingin terus bergerak. Menjaga semangat kebersamaan yang hangat. Dan menjadi bagian dari perubahan yang baik.

Yos Hendra adalah cerita tentang pemuda yang memilih. Memilih jalan pengabdian di tengah riuh dunia. Memilih menjadi penguat, bukan perusak. Memilih menjadi penyambung, bukan pemisah. Namanya mungkin sederhana. Tapi jejaknya sedang ditulis dengan kerja. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *