Opini

Jaga Akhlak, Majukan Bangsa!

43
×

Jaga Akhlak, Majukan Bangsa!

Share this article
IMG 20260911 WA0040 2
Syamsudin Kadir Foto : Dok Pribadi

Oleh: Syamsudin Kadir

Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat

AHMAD Syauqi, penyair besar Mesir, menulis bait yang mengguncang kesadaran kita. “Bangsa itu tegak dengan akhlak, seandainya akhlaknya pergi, maka bangsa itu pun akan ikut hancur.” Kalimat pendek, tapi menjadi cermin bagi setiap peradaban. Bukan senjata yang menegakkan bangsa, tapi akhlak yang menjaganya. Bila akhlak hilang, gedung tinggi hanya menjadi makam yang megah.

Lihatlah fenomena hari ini yang membuat bait itu terasa sangat dekat. Korupsi dianggap biasa, kebohongan dipoles menjadi strategi. Anak membentak orang tua di depan kamera demi konten. Pejabat tertawa saat rakyat susah, pelajar bangga menyontek dan berpacaran. Kita sibuk membangun infrastruktur, tapi lupa membangun mental dan karakter manusia di dalamnya.

Di media sosial, akhlak runtuh dengan sangat cepat dan terbuka. Ujaran kebencian dijual murah, fitnah dibagikan ribuan kali tanpa cek. Orang mudah menghina, mudah memaki dan mudah mengadu domba. Etika hilang, adab ditinggalkan, yang penting viral dan naifnya lagi yang penting dapat uang. Padahal bangsa yang besar bukan yang paling ramai, tapi yang paling beradab, termasuk di platform digital.

Di sekolah, kita lihat krisis akhlak yang mengkhawatirkan. Guru dilawan, teman dirundung, kekerasan direkam dan ditertawakan. Nilai angka dikejar, tapi nilai kejujuran tidak diajarkan. Anak pintar secara akademik, tapi miskin empati dan sopan santun. Siswa lebih suka mencela daripada mengapresiasi. Inilah tanda awal kehancuran yang diingatkan oleh Ahmad Syauqi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan bahwa misi utama kenabian adalah penyempurnaan akhlak mulia. Hadits shahih riwayat Imam Ahmad ini menjadi fondasi peradaban Islam. Artinya ibadah ritual seperti shalat dan shaum harus bermuara pada perbaikan perilaku. Jika seseorang rajin ibadah tapi masih gemar berbohong dan menyakiti, ibadahnya belum berbuah. Maka tolak ukur keberhasilan dakwah adalah lahirnya manusia yang jujur dan beradab.

Baca Juga :  Muhamad Syukur: Meniti Panggung Jakarta

Hadits lain menjelaskan bahwa penyebab terbanyak manusia masuk surga adalah takwa dan akhlak mulia. Riwayat Imam Tirmidzi dengan status hasan shahih ini sangat mendalam. Artinya, kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta atau jabatan. Yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik akhlaknya kepada sesama. Islam mengukur derajat seseorang bukan dari pangkatnya, tapi dari kehalusan budi dan kejujurannya.

Urgensi akhlak di era modern dan digital jauh lebih besar dari sebelumnya. Dulu aib tertutup tembok, kini aib tersebar satu klik ke seluruh dunia. Algoritma mendorong yang sensasional, bukan yang berakhlak. Kecerdasan buatan bisa membuat wajah palsu, suara palsu, berita palsu. Hanya akhlak yang bisa menjadi filter, agar teknologi tidak menjadi bencana. Akhlak baik membuat dunia makin indah.

Di era digital, akhlak adalah literasi yang paling utama. Mampu menahan jari untuk tidak menyebar hoaks adalah akhlak. Mampu menghormati privasi orang lain adalah akhlak.
Mampu berkata qaulan sadida, perkataan yang benar dan tepat adalah akhlak. Berani menolak korupsi adalah akhlak. Menyebar kebaikan adalah akhlak. Tanpa akhlak digital, internet akan berubah: dari alat silaturahim menjadi alat perpecahan.

Begitulah indahnya ajaran Islam. Islam tidak memisahkan akhlak dari iman. Iman tanpa akhlak adalah dusta. Akhlak tanpa iman adalah rapuh. Islam mengajarkan akhlak kepada Allah dengan takwa, kepada manusia dengan kasih. Kepada orang tua dengan birrul walidain, taat atau berbuat baik padanya, dan kepada tetangga dengan ihsan. Bahkan kepada hewan dan tumbuhan, Islam perintahkan akhlak dengan rahmah, kasih sayang.

Islam menjadikan akhlak sebagai timbangan paling berat di hari kiamat. “Tidak ada yang lebih berat di mizan selain husnul khuluq, akhlak mulia.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Shalatmu banyak, shaummu banyak. Tapi jika lisanmu menyakiti tetangga, semua itu bisa runtuh. Akhlak adalah bukti bahwa imanmu hidup, bukan sekadar hafalan. Akhlak adalah wujud ketenangan hati, bukan sensasi.

Baca Juga :  KDM Bukan Jokowi!

Mari bangkit dan mulai dari hal kecil yang menggerakkan. Mulai dari rumah. Ajarkan anak jujur, bukan hanya pintar. Mulai dari sekolah. Hidupkan kembali salam, senyum, sapa, sopan, santun. Mulai dari kantor. Jadikan integritas sebagai budaya, bukan basa basi. Mulai dari media sosial. Jadikan jarimu sebagai pena kebaikan. Literasi itu bukan definisi, tapi tindakan yang mencerahkan sesama.

Wahai bangsa Indonesia. Tegaklah dengan akhlak, jangan hanya dengan beton. Jika akhlak kita kokoh, maka Indonesia akan kokoh dan disegani dunia. Jika akhlak kita pergi, maka semua pembangunan akan ikut hancur. Tugas kita bukan hanya membangun negara, tapi membangun jiwa negara. Mari jaga akhlak, maka Allah akan jaga bangsa ini dengan penjagaan yang indah. Sungguh, bila akhlak kita naik kelas, maka bangsa kita naik kelas. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *