Opini

Hari Santri dan Nurul Hakim Lombok

6
×

Hari Santri dan Nurul Hakim Lombok

Share this article
IMG 20261022 WA0089
Syamsudin Kadir

Oleh: Syamsudin Kadir

Wakil Ketua LPBKI MUI Pusat

22 Oktober 2026 adalah Hari Santri. Hari di mana bangsa ini menundukkan kepala, berhenti sejenak dari bising dan hiruk pikuk dunia, untuk mengenang jasa besar pondok pesantren dan kaum santri. Ini bukan sekadar seremoni tahunan dengan upacara dan spanduk yang berkibar, tetapi pengakuan negara yang paling jujur bahwa kemerdekaan negara ini dijaga oleh doa-doa lirih, darah para syuhada, dan ketulusan kaum santri yang bersujud dalam sunyi.

Salah satu pondok yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan panjang itu adalah Pondok Pesantren Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat, NTB. Pesantren yang lahir dari kesederhanaan tanah Lombok, tumbuh dalam ketulusan para masyayikh yang tidak pernah menuntut, dan besar karena keikhlasan yang tidak pernah diiklankan. Dari pulau yang dikelilingi ombak dan angin, ia mengirim cahaya ilmu ke penjuru Nusa Tenggara bahkan ke seluruh negeri.

Saya sendiri pernah nyantri di Nurul Hakim pada tahun 1996 sampai 2002. Enam tahun yang tidak sebentar, enam tahun yang membentuk tulang punggung hidup saya hari ini. Di sanalah saya belajar mengeja kitab yang menguning, mengeja hidup yang terjal, dan mengeja makna menjadi manusia yang kecil. Waktu yang mengajarkan bahwa ilmu itu ditunggu dengan sabar, bukan dituntut dengan tergesa-gesa.

Nurul Hakim itu sendiri adalah potret kesederhanaan yang bersahaja dan apa adanya. Tidak ada gapura megah yang menjulang ke langit, tidak ada bangunan yang memamerkan kemewahan dunia yang fana, semuanya tampil jujur seperti santri yang baru selesai wudhu. Namun dari kesederhanaan yang nyaris tak bersuara itulah lahir para tuan guru, kiai, dan ustaz yang ikhlas, tulus dan penuh keteladanan.

Baca Juga :  KDM dan Politik Visibilitas Kemiskinan

Di Nurul Hakim, kemuliaan tidak pernah diukur dari panjangnya sorban, mahalnya jubah, atau gegap gempitanya simbol kesantrian yang viral. Para masyayikh justru tampil bersahaja, dengan baju yang sangat sederhana, tutur kata yang lembut seperti embun, dan senyum yang teduh menenangkan jiwa yang gersang. Mereka mengajarkan bahwa kekayaan sejati yaitu ketenangan jiwa, bukan pada penampilan yang menipu.

Mereka tidak pernah mengajarkan kesantrian dengan simbol-simbol yang dibuat-buat atau pencitraan yang melelahkan mata dan hati. Melainkan dengan keteladanan yang hidup setiap hari dan bisa disaksikan langsung dalam keseharian. Cara mereka berjalan pelan penuh wibawa, cara menyambut tamu dengan memuliakan, cara memeluk santri kecil dengan cinta, semua itu adalah kitab yang tidak tertulis di kitab mana pun.

Karena di Nurul Hakim, ilmu tidak hanya didengar lewat ceramah di atas mimbar yang tinggi, tetapi dilihat dan dirasakan lewat laku para masyayikh yang istiqamah hingga akhir. Itulah jati diri yang ditanamkan kepada kami sejak hari pertama dengan sandal tipis yang tertatih. Ilmu diutamakan, akhlak dimuliakan, dan kesederhanaan dijaga sebagai jalan hidup, bukan sekadar slogan yang mudah diucap.

Nilai itu tidak pernah ditulis di atas spanduk besar atau dipajang di dinding dengan bingkai emas yang berkilau memabukkan. Melainkan dipraktikkan dalam cara duduk bersila di halaqah yang dingin menjelang subuh, cara menundukkan hati di hadapan ilmu yang dalam, dan cara menghormati sesama tanpa syarat. Kami diajarkan bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan manfaat bahkan keberkahannya yang hakiki.

Dari prinsip yang sederhana itulah kami akhirnya memahami hakikat keberhasilan sebuah pesantren yang hakiki dan sejati. Keberhasilan bukan diukur dari seberapa megah penampilan alumninya atau seberapa lantang gelar disebut di undangan kehormatan. Melainkan dari seberapa bermanfaat ilmu yang diamalkan diam-diam dan seberapa mulia akhlak yang ditunjukkan ketika sunyi.

Baca Juga :  28 Tahun KAMMI; Bakti KAMMI untuk Indonesia

Bukan pula dari seberapa besar panggung yang dimiliki atau seberapa banyak pengikut di media sosial yang memujinya tanpa henti. Melainkan dari seberapa besar pengabdian yang dirasakan oleh umat di sekitarnya dengan tulus dan tanpa pamrih sedikit pun. Itulah standar sunyi yang diwariskan Nurul Hakim kepada setiap santrinya tanpa terkecuali. Kami didik untuk itu, untuk orientasi mulia.

Standar yang terlihat sederhana di bibir, tetapi berat untuk dijaga seumur hidup dalam godaan dunia yang bising dan menipu. Dari kesederhanaan yang setia itu pula lahir para pejuang ilmu yang tangguh, tulus, dan tahan uji oleh zaman. Dari ketulusan para masyayikh yang tidak pernah putus mendoakan santri di sepertiga malam yang sunyi dan penuh haru serta tangis.

Tumbuh generasi yang tidak hanya pintar mengaji kitab kuning yang tebal dan berdebu, tetapi juga matang dalam adab dan karakter kebangsaan yang kokoh dan berakar. Kami dididik bukan untuk menjadi orang besar yang haus dipuji dan disanjung manusia di mana-mana. Melainkan untuk menjadi orang berguna bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang berterima kasih kepada kami.

Karena Nurul Hakim bukan sekadar tempat menimba ilmu syar’i, tapi ia juga adalah tempat menempa adab dan membangun karakter jiwa yang rapuh dan mudah patah. Di sanalah kami belajar bahwa adab lebih tinggi dari ilmu dan bahwa istiqamah lebih berat dari seribu karamah yang diceritakan. Menjadi santri berarti belajar menjadi kecil di hadapan Allah setiap waktu dan helaan nafas.

Agar besar manfaatnya bagi manusia dan alam semesta yang merindukan kehadiran yang menyejukkan dan meneduhkan luka. Pelajaran itulah yang membuat alumni Nurul Hakim tidak mudah silau oleh dunia dan jabatan yang menggoda. Karena sejak awal kami diajarkan untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di dalam hati yang harus tetap bersih dan terjaga kesuciannya.

Baca Juga :  Shaum 6 Hari Syawal dan Rahmat Allah untuk Para Pendosa

Maka ketika Hari Santri datang dengan segala haru, saya berkata bangga menjadi alumni Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok angkatan 1996-2002 dengan penuh syukur yang dalam. Itu bukan kebanggaan yang dibuat-buat atau romantisme kosong tanpa makna dan ruh. Itu adalah pengakuan atas utang besar, utang ilmu, utang adab, dan utang doa dari para masyayikh yang abadi di hati kami sampai akhir hayat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *