Opini

Unta dan Kepemimpinan Umar Bin Khattab

8
×

Unta dan Kepemimpinan Umar Bin Khattab

Share this article
IMG 20261025 WA0030
Syamsudin Kadir

Oleh: Syamsudin Kadir

Wakil Ketua LPBK MUI Pusat

ADA kisah yang terus hidup, meski telah berlalu lebih dari empat belas abad lamanya. Kisah tentang seekor unta yang terlalu gemuk di padang rumput Madinah yang luas dan berdebu. Abdullah bin Umar membeli seekor unta yang sangat kurus dengan uangnya sendiri yang halal. Lalu ia gembalakan di padang milik Baitul Mal, tempat unta sedekah dan unta rakyat merumput bersama di bawah terik yang sama.

Hari demi hari ia rawat dengan penuh ketekunan dan kesabaran yang wajar dan tulus. Hingga unta itu tumbuh gemuk dan berbeda dari unta-unta lain yang ada di padang itu. Umar bin Khattab melihatnya saat melakukan pemeriksaan rutin terhadap harta negara dan rakyat. Matanya yang tajam menangkap keganjilan itu di tengah unta-unta yang biasa dan wajar.

Lalu ia bertanya dengan suara yang dalam dan penuh wibawa, “Siapakah pemilik unta ini?” Orang-orang menjawab dengan jujur, “Unta itu milik Abdullah bin Umar, putramu sendiri.” Darah Umar berdesir mendengar jawaban itu dengan sangat khawatir. Ia terkejut, bukan karena marah, tapi karena khawatir akan makna di balik kegemukan itu.

Ia segera mengutus orang untuk memanggil putranya agar datang segera ke padang itu. Abdullah pun datang dengan tergesa-gesa menghadap ayahnya yang sedang menunggu dengan cemas. Di hadapan ayahnya, ia menjelaskan dengan jujur dan terbuka apa adanya tanpa ditutupi. Ia membelinya dengan modal sendiri yang halal dan merawatnya dengan cara wajar seperti pedagang lain.

Ia hanya berharap mendapat keuntungan wajar seperti yang diharapkan oleh orang lain pada umumnya. Tidak ada niat buruk dan tidak ada tipu daya di dalam usahanya itu sama sekali. Namun Umar menjawab dengan logika yang melampaui logika perdagangan biasa yang sederhana. Dengan nada meluap dan penuh kekhawatiran, ia berkata, “Nanti orang akan berkata: gembalakan unta anak Amirul Mukminin.”

Baca Juga :  Terima Kasih Presiden Prabowo Subianto

“Maka unta itu menjadi gemuk, bukan karena kerja kerasmu semata yang kau lakukan. Melainkan karena bayang-bayang jabatan ayahmu yang membuat orang lain takut dan segan kepadamu.” Di sanalah Umar melihat bahaya yang tidak dilihat oleh orang biasa, bahaya dari privilese yang tidak diminta. Ia tahu, keistimewaan itu sering datang sendiri tanpa diundang, hanya karena nama besar jabatan ayahnya.

Pembelajaran

Pertama, tentang kesadaran kekuasaan yang sering dilupakan era ini. Umar mengerti bahwa kekuasaan bekerja bahkan ketika kita tidak memintanya sama sekali. Ia memahami bahwa pengaruh jabatan mengalir dalam diam, tanpa perintah, tanpa surat, tanpa instruksi apa pun. Kesadaran inilah yang membedakan pemimpin yang menjaga kekuasaan dengan pemimpin yang menjaga keadilan.

Ia bekerja dalam diam, dalam tatapan takut bawahan yang ingin mencari aman. Dalam bisik-bisik halus yang ingin menyenangkan atasan tanpa pernah diperintah secara langsung. Abdullah tidak pernah meminta untuk diistimewakan oleh siapa pun di padang itu. Tetapi para penggembala mengistimewakannya karena takut kepada nama besar ayahnya yang sedang berkuasa.

Inilah yang membedakan pemimpin besar dengan pemimpin biasa dalam sejarah kepemimpinan. Pemimpin biasa hanya menjaga dirinya agar tidak mengambil hak rakyat secara langsung. Pemimpin besar menjaga agar bayang-bayangnya sendiri tidak mengambil hak rakyat secara diam-diam. Ia tidak hanya membersihkan tangannya dari harta haram, ia juga membersihkan bayang-bayangnya dari keistimewaan.

Kedua, tentang perbedaan antara halal dan thayyib yang sering dilupakan. Antara sah secara prosedur dan suci secara makna yang lebih dalam dan tinggi. Secara fikih muamalah, jual beli Abdullah itu sah dan halal, modalnya halal, akadnya jelas dan usahanya nyata. Tetapi Umar melihat dengan kacamata yang lebih dalam, yaitu kacamata thayyib, kacamata kesucian dan keberkahan.

Apa yang halal bagi rakyat kebanyakan, bisa menjadi tidak thayyib bagi keluarga penguasa yang sedang berkuasa. Sebab ia tumbuh di atas padang rumput yang tidak adil dan tidak setara bagi semua. Padang itu adalah fasilitas publik milik Baitul Mal, milik semua orang tanpa terkecuali. Ketika unta anak penguasa digembalakan di sana, ia mendapat rumput lebih hijau dan air lebih banyak.

Baca Juga :  KDM dan Politik Visibilitas Kemiskinan

Bukan karena ia membayar lebih mahal dari unta-unta lain yang ada di sana. Tetapi karena petugas takut dan ingin menyenangkan hati penguasa yang sedang berkuasa. Inilah ketidakadilan yang halus, yang sering tidak terlihat dalam laporan keuangan negara. Ia tidak tercatat sebagai korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN, tapi ia tumbuh sebagai keistimewaan yang merusak keseimbangan padang dan pelayanan publik.

Ketiga, kepemimpinan sejati selalu dimulai dari rumah sendiri yang paling dekat. Bukan dari mimbar tinggi dan pidato yang berapi-api di hadapan rakyat banyak. Perhatikan cara Umar memanggil anaknya dengan nada yang keras dan tegas tanpa basa-basi. Ia tidak berkata, “Wahai Abdullah anakku,” melainkan, “Hai anak Amirul Mukminin,” dengan wibawa.

Ia sedang memindahkan hubungan dari ruang privat yang penuh kasih sayang seorang ayah ke ruang publik yang penuh tanggung jawab dan keadilan yang harus ditegakkan bersama. Kita sering melihat pemimpin gagah di mimbar, tegas kepada rakyat, keras kepada lawan politiknya. Tetapi lumpuh dan lemah ketika berhadapan dengan anak, istri, dan kolega atau lingkarannya sendiri

Literasi Kepemimpinan

Di sinilah literasi kepemimpinan ala Umar hadir. Umar mengajarkan paradigma terbalik yang jauh lebih berat dan tidak populer bagi penguasa. “Tegaslah pertama kali kepada yang paling dekat denganmu, kepada darah dagingmu sendiri. Karena dari sanalah keadilan akan dipercaya oleh rakyat dengan sepenuh hati dan cinta. Jika keluargamu sendiri tidak berani kau tegur dengan adil, bagaimana rakyat akan percaya padamu.”

Keadilan yang tidak berani masuk ke dalam rumah, tidak akan pernah dipercaya di luar rumah yang luas. Itulah mengapa Umar memulai ketegasannya dari dalam rumahnya sendiri yang paling dekat. Dari darah dagingnya sendiri, dari unta kesayangannya sendiri yang ia cintai. Dan pada akhirnya, Umar memutuskan dengan indah dan pedih, namun agung dan penuh cinta yang mendalam.

Baca Juga :  Dana Desa; Korupsi versus Kemajuan Desa

“Wahai Abdullah, ambillah modal awalmu untuk membeli unta ini dengan halal. Dan kembalikan semua keuntungannya ke Baitul Mal untuk kemaslahatan umat yang lebih luas.” Ini bukan hukuman, bukan kemarahan seorang ayah kepada anaknya yang ia sayangi. Ini adalah penyucian dan pendidikan sekaligus literasi kepemimpinan yang agung dalam sejarah Islam.

Umar tidak sedang menghukum anaknya, ia sedang membersihkan padang rumputnya agar tetap hijau untuk semua. Ia sedang mengembalikan keseimbangan agar semua unta merumput di padang yang sama dan setara. Meminum air yang sama dan tumbuh dengan keadilan yang sama tanpa keistimewaan apa pun yang merusak ekosistem, termasuk ekosistem hukum dana pelayanan publik.

Dari seekor unta yang terlalu gemuk, Umar mengajarkan bahwa tugas pemimpin bukan membuat untanya lebih gemuk. Tugas pemimpin bukan membuat unta keluarganya lebih gemuk dari unta rakyat kebanyakan. Kepemimpinan adalah keberanian untuk memastikan tidak ada unta keluarganya yang terlalu gemuk karena pengaruh jabatan dan kekuasaan yang diembannya.

Selebihnya, pemimpin harus mampu memastikan tidak ada unta yang terlalu kurus karena ketidakadilan sistem yang timpang dan tidak adil. Pemimpin mesti hadir dan adil untuk semua. Itulah ciri pemimpin yang dicintai langit, sebelum ia dicintai oleh bumi dengan tulus. Pemimpin yang berani membuat untanya sendiri kembali kurus, agar unta rakyatnya bisa tumbuh wajar, adil, dan bermartabat di padang yang sama. Di sini tak ada korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *