Opini

NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan

9
×

NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan

Share this article
IMG 20260819 WA0035
Syamsudin Kadir Penulis Buku "NTT BISA! Dari Reruntuhan Ke Harapan" Foto : Dok Pribadi/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”

Alhamdulillah, kita layak bersyukur kepada-Nya. Di antara air mata yang jatuh diam-diam dan doa yang dipanjatkan di tengah luka dan duka, masih diberi kesempatan merakit kata. Duka memang tak mampu menghalangi pena, sedih tak bisa memadamkan semangat. Justru dari retak-retak hati itulah lahir kalimat-kalimat yang paling jujur, dan paksa diri untuk lebih kuat. Bukan hanya jadi saksi di tengah gelap reruntuhan, tapi juga ketikan harapan di tengah duka. Bahwa NTT bisa bertahan, bangkit, dan meninggalkan jejak.

“NTT BISA!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”. Begitu judul buku ini. Tapi ini bukan sekadar judul buku. Ini seperti bisikan yang berdesis pelan tapi keras di dada. Saya membayangkan halamannya dibuka, dan yang pertama keluar bukan data atau angka. Tapi yang keluar adalah debu. Debu dari rumah yang roboh karena bencana, dari ladang yang hancur karena gempa, dan dari mimpi-mimpi yang pernah ditunda karena musibah yang menimpa.

Tapi di sela debu itu ada tangan. Tangan ibu-ibu yang menanam jagung, padi dan ubi lagi walau hujan telat datang. Tangan anak sekolah yang jalan sekian ribu meter demi belajar di sekolahan. Tangan pemuda yang pulang dari rantau dan bilang, “Kita bangun dari sini saja. Kita bisa bangkit dan menatap masa depan keluarga dengan optimis”. Atau foto seorang ayah yang memegang cangkul dan parang lalu berkata: “Kita masih punya modal, mari lanjutkan apa yang sudah kita mulai!”

Bangkit, Menjemput Harapan

Ada tanah yang diuji angin. Ada laut yang sering menelan janji. Ada matahari yang terlalu jujur, membakar tanpa bertanya. Di sanalah NTT berdiri. Pernah runtuh. Rumah, sekolah dan fasilitas umum roboh oleh badai: gempa. Harapan kering oleh kemarau. Nama baik diguncang stereotip. Tapi tanah itu tidak pernah mati. Ia hanya diam, menunggu dipegang lagi.

Baca Juga :  Presiden Prabowo memang Negarawan

Dan dari diam itu, lahir kata: BISA. BISA dari ibu yang menenun luka jadi motif. Setiap helai benang tenun adalah doa yang tidak putus. BISA dari bapak yang menggali tanah dengan tangan kapalan, karena percaya air akan kembali pulang. BISA dari anak-anak yang berjalan di jalan berbatu, membawa buku di kepala dan cita-cita di punggung.

Reruntuhan tidak dihapus. Reruntuhan dipeluk. Dijadikan alas untuk berdiri lebih tinggi. “Dari Reruntuhan Ke Harapan” bukan dongeng. Ini kenyataan di lapangan. Tentang orang-orang yang menolak—secara tegar untuk selamanya—disebut korban, lalu memilih jadi penenun masa depan. Mungkin ada orang yang tulus membantu, hingga bisa berdiri tegak, namun pada dasarnya dalam jiwa mereka selalu punya ambisi bahwa bencana yang pernah dialami diusir dan segera pergi tanpa menolak juga mengelak.

Karena NTT mengerti satu hal yang dunia sering lupa: yang paling subur bukan tanah yang selalu hujan. Tapi tanah yang belajar tumbuh di tengah kurang. Dan di tanah itulah, harapan tidak lagi ditunggu. Harapan ditanam. Disiram dengan keringat. Dipetik dengan sabar. “NTT BISA!”, karena dari reruntuhan, kita belajar cara membangun rumah peradaban baru yang kukuh dan tidak mudah roboh.

Tentang Buku Ini

“NTT BISA!” rasanya seperti pengakuan. Pengakuan bahwa luka itu nyata. Reruntuhannya ada. Kemiskinan, akses, air, dan pendidikan. Semua pernah bikin kita menunduk tanpa berani menatap ke depan, termasuk di hadapan saudara atau tetangga kita sendiri. Ditambah lagi dengan bencana gempa yang baru saja terjadi, semuanya menjadi sempurna dan lengkap. Kita seakan dipaksa untuk mengalah, lalu selesai.

Tapi kata “BISA” di depannya menolak untuk berhenti di situ. Buku ini ngajarin kita satu hal: harapan di NTT tidak bisa dibunuh oleh anggapan dan asumsi. Harapan tidak lahir dari menunggu. Harapan lahir dari kerja nyata. Dari komunitas petani yang kembali gotong royong bikin pematangan sawah. Dari keluarga kampung yang kembali menyapa kebun. Dari guru yang rela tinggal di pulau terpencil demi pendidikan tunas bangsa.

Baca Juga :  Literasi yang Terabaikan, Intelektualitas yang Dipertanyakan

Dari pengrajin tenun yang mengubah benang jadi cerita hingga bisa menyalakan api dapur. Dari setiap orang yang memilih untuk tidak menyalahkan keadaan, lalu mulai menata batu demi batu. Dari nelayan yang berhari-hari di laut memburu ikan untuk kebutuhan sekolah anak dan dapur keluarga. Semuanya merakit mimpi dan menenun masa depan dengan jutaan harapan.

“Dari Reruntuhan Ke Harapan” bukan janji manis. Dia jujur, apa adanya. Dia seakan-akan bilang begini: “Kita pernah jatuh. Tapi lihat, kita juga pernah bangun. Dan kita bisa bangun lagi, dengan cara kita sendiri. NTT mesti pulih, dan itu jalan yang kita pilih. Mungkin ada langkah yang membuat kita lelah. Namun tekad diri terlalu kuat, sehingga semuanya terus melangkah, walau kadang tertatih-tatih.”

Dari ujung timur, fajar tidak pernah meminta izin untuk terbit. Ia datang dengan caranya sendiri, memecah gelap, menampar samudra, dan menyapa pulau-pulau yang selama ini hanya disebut di ujung peta: Timur Indonesia. Hari ini kita belajar percaya lagi: bahwa cahaya juga bisa, dan memang harus selalu terbit dari Timur. Bahwa di tanah NTT, di antara bukit kering dan laut yang dalam, ada nyala yang tidak padam. Ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam, ada mimpi yang dijaga dengan sabar. “NTT BISA!” adalah janji yang kita ulang setiap detik, agar dunia tahu: dari sini lahir keberanian, dari sini lahir harapan.

Buku ini milik kita. Halaman demi halaman adalah keringat, tawa, luka, dan doa yang kita titipkan bersama. Perjalanan ini milik kita. Jalan berliku, angin kencang, dan hujan yang kadang menunda langkah tidak akan membuat kita berbalik. Kita berjalan terus, saling menggandeng, karena kita tahu ke mana pulang. Kepada Tuhan kita memohon, semoga setiap sujud didengar, setiap doa dikabulkan, dan setiap harapan yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi kenyataan yang bisa dipegang anak cucu kita nant

Baca Juga :  Apa Kabar Penilaian 360 Derajat?

Terima Kasih

Saya menulis buku ini bukan sendirian. Benar, tidak sendirian. Saya menulis di tengah saudara yang mengungsi tersebab gempa yang tak selalu bisa diajak mengurang juga mengurung duka. Saya menulis karena ada dukungan juga doa tulus mereka yang tak terhitung bilang. Semuanya dirajut oleh kebaikan dan dinafaskan oleh keyakinan. Di sini ada kesamaan rasa: cinta, peduli dan empati. Terima kasih untuk mereka, semuanya.

Untuk semua yang terlibat, yang mendukung, yang percaya, saya ucapkan terima kasih. Berbeda cerita, berbeda langkah, api dalam kepedulian kita bertemu. Latar kita berbeda, tapi niat kita sama: menebar peduli, menebar sumber bacaan. Kita berdiri berdampingan, bergandengan tangan, menjadi rumah bagi kata, peduli dan cinta di tengah luka juga duka.

Menutup antaran ini rasanya seperti pulang. Pulang ke keyakinan bahwa tempat yang sering disebut “tertinggal” dan kini diterpa gempa justru punya guru terbaik tentang ketangguhan. Karena ternyata, harapan itu bukan sesuatu yang datang. Harapan itu sesuatu yang kita tanam, siram, dan jaga, di tanah kita sendiri: Tanah NTT. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *