Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapan”
DI antara gemuruh tanah dan hening setelahnya, selalu ada kaki yang melangkah lebih dulu. Di Aceh dulu, di Palu dan Lombok kemarin, dan kini di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Muhammadiyah datang lagi. Tanpa spanduk panjang, tanpa sorak. Hanya membawa keyakinan yang sudah lama ditanam.
Keyakinan itu bernama al-Ma’un. Teologi sederhana yang melarang kita berpaling saat ada perut kosong dan bahu yang patah. Dari situlah lahir Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dari situlah LAZISMU membuka tangan. Kerja mereka bukan sekadar teknis. Itu panggilan yang tidak bisa ditund
Menghimpun Infak
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tentang Penghimpunan Infak Salat Jumat untuk Bantuan Kemanusiaan Korban Bencana Gempa Bumi di Flores NTT.
Edaran yang ditetapkan di Yogyakarta pada 20 Agustus 2026 tersebut ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., dan Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, Ph.D.
Isinya bukan instruksi dingin. Ia seperti surat dari rumah: kita berduka bersama, dan kita harus bergerak bersama. Untuk siapa? Untuk saudara-saudara di Flores yang malamnya kini ditemani langit, bukan atap. Untuk mereka yang membangunkan pagi dengan takut, bukan dengan azan biasa.
Lalu tibalah Jumat, 21 Agustus 2026. Di masjid-masjid Muhammadiyah, kotak infak diedarkan setelah salam terakhir. Di AUM, di ranting, di cabang. Uang receh beradu, kertas rupiah dilipat rapi, doa diselipkan di sela. Semua untuk Flores.
Dana itu tidak dibiarkan mengalir tanpa arah. LAZISMU dan LRB di tiap tingkatan diminta menjadi sungai dan bendungan. Menghimpun, mencatat, menyalurkan. Agar tidak ada yang tercecer di tengah jalan.
Ada satu semangat yang terus disebut: OMOR. One Muhammadiyah One Response. Satu tubuh, satu rasa. Penggalangan harus terpadu. Penyaluran harus terukur. Dan di akhir, ada laporan. Karena kepedulian yang baik adalah kepedulian yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kerahkan EMT Muhammadiyah
Laut di Surabaya sudah bergetar. Malam 21 Agustus 2026, Pelabuhan Tanjung Perak melepas 22 orang. Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah. Satu personel lagi menyusul. Mereka berangkat dengan ransel, bukan dengan pidato.
Tim ini bukan tim biasa. Mereka sudah melewati verifikasi WHO. Di dalamnya ada 7 perempuan dan 15 laki-laki. Ada dokter spesialis emergensi, dokter bedah umum, delapan perawat, seorang bidan. Ada admin medis, dua tenaga farmasi, tujuh logistik, dan satu petugas keamanan. Cukup untuk menjadi rumah sakit berjalan.
Tujuan mereka jauh. Dampek, Kabupaten Manggarai Timur. Di sana Puskesmas rusak berat. Dinding retak, alat berserakan, tenaga kesehatan kewalahan. EMT Muhammadiyah datang untuk berdiri di samping, bukan menggantikan.
Tugasnya jelas dan sederhana. Buka poliklinik. Siapkan IGD. Bantu rujukan bagi yang harus dirujuk lebih jauh. Dan jika perlu, siapkan rawat inap. Semua disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan apa yang masih bisa dipakai di lapangan.
Mereka tidak datang sendiri. Logistik medis dan logistik umum ikut dalam perjalanan yang sama. Obat, tenda, makanan, lampu. Barang-barang kecil yang menjadi besar artinya bagi mereka yang semalaman tidur di luar.
“EMT Muhammadiyah akan bekerja bersama pemerintah dan fasilitas kesehatan setempat untuk memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan. Dukungan tenaga medis dan logistik kesehatan akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ungkap Aulia Taarufi dari MDMC PP Muhammadiyah, Senin, 24 Agustus 2026.
Begitulah Muhammadiyah. Lebih memilih amal usaha nyata daripada gemah retorika. Membangun sekolah, rumah sakit, dan kini tenda darurat. Di NTT kali ini, iman kembali diuji dengan cara yang paling jujur: hadir, mengobati, dan tidak pergi sebelum fajar kembali aman. (*)






