Opini

Jejak Suryanti: Meniti Jalan, Meraih Sarjana

13
×

Jejak Suryanti: Meniti Jalan, Meraih Sarjana

Share this article
IMG 20260905 WA0083
Foto : Istimewa

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Inspirator Muda Indonesia: Dari Cereng untuk Dunia”

DI antara bukit dan angin Pandang yang tenang, pada 28 Oktober 2004 lahir seorang anak perempuan bernama Suryanti. Ia datang bukan dari keluarga bangsawan, melainkan dari tanah yang digarap dengan keringat. Namanya sederhana, namun menyimpan janji bahwa suatu hari ia akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Bapak Nasrudin Abdullah dan Ibu Siti Halima Sedia adalah dua nama yang menjadi langit bagi hidupnya. Keduanya petani. Tangan mereka kasar oleh cangkul, tetapi hati mereka lembut oleh doa. Dari ladang yang tak pernah lelah memberi, lahirlah nilai pertama: bahwa setiap butir ilmu, seperti padi, harus ditanam dengan sabar dan dirawat dengan kejujuran.

Suryanti adalah anak keempat dari empat bersaudara. Di depannya ada Hasni Irawati, S.Pd., Samsia, S.H., dan Alfin. Mereka bukan hanya kakak, melainkan mercusuar. Melihat mereka menapaki bangku kuliah dari kampung yang jauh, Suryanti belajar bahwa jarak tidak pernah bisa mengalahkan tekad. Dari rumah kecil itulah ia mengerti arti kata “berjuang bersama”.

Pendidikannya dimulai di MI Al-Mukhasisinin Pandang. Tahun 2010 ia masuk dengan tas kecil dan mata besar penuh tanya, lalu lulus pada 2016 dengan hafalan dan harapan. Lonceng berikutnya berbunyi di MTs Al-Mukhasisinin, tempat ia ditempa dari 2016 hingga 2019. Kemudian MAN 2 Manggarai menjadi rumah keduanya selama 2019–2022, mengasah nalar dan iman sebelum ia berani melangkah lebih jauh.

Tahun 2022, ia merantau ke Mataram untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Sejarah, ia menemukan cintanya: waktu.

Ia belajar bahwa sejarah bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan napas manusia yang pernah hidup. Empat tahun ia jalani, hingga 2026, ia menutupnya dengan skripsi, air mata, dan gelar: Sarjana Pendidikan, S.Pd.

Baca Juga :  Mengenal dan Meneladani Ibnu Ummi Maktum

“Alhamdulillah saya mendapat beasiswa dari Cendekia BAZNAS di Universitas Muhammadiyah Mataram, UMMAT. Itu sangat membantu saya dan pokoknya terima kasih banyak kepada BAZNAS dan UMMAT. Semoga Allah membalas semuanya dengan balasan terbaik,” ungkapnya.

Kini skripsi yang dulu ditulis dengan air mata dan doa tengah malam, telah menjelma menjadi buku berjudul “Adat Curu Pengantin Baru: Peran dan Eksistensinya Sebagai Budaya Manggarai di Era Globalisasi”.

Ia adalah surat cinta kepada tanah kelahiran. Di dalamnya tersimpan napas leluhur yang berbisik di antara anyaman tikar merah, tawa warga yang berkumpul, dan kebijaksanaan adat yang menolak punah meski zaman terus berlari.

Kampus tidak hanya memberinya ruang kelas. Suryanti aktif di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Paguyuban Keluarga Besar Lembor, BEM FKIP UMMAT, dan KR-MDMC UMMAT. Baginya organisasi adalah laboratorium jiwa. Di sana ia melatih kepemimpinan, memperluas relasi, dan belajar menenun perbedaan menjadi kerja sama. Karena dari perbedaan itulah ia mengerti, bahwa kekuatan terbesar lahir saat banyak suara mau berjalan dalam satu irama.

Dampaknya nyata. Gadis yang dulu hanya berani berbisik, kini mampu berdiri dan berbicara. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih tajam dalam menganalisis masalah, dan lebih lentur dalam bekerja dengan siapa saja. Organisasi mengajarinya bahwa potensi tidak tumbuh di ruang sunyi, ia tumbuh di tengah gesekan dan gotong royong.

Ada dua hal unik yang ia temukan. Pertama, di bangku kuliah: sejarah mengajaknya keluar dari kelas, menjejak lokasi bersejarah, dan melihat satu peristiwa dari banyak sudut. Ia belajar untuk tidak mudah menghakimi sebelum memahami fakta. Kedua, di rantauan: ia bertemu bahasa, logat, dan adat yang berbeda. Namun kebersamaan dengan sesama perantau Manggarai Barat membuat rantau terasa seperti serambi kampung halaman.

Baca Juga :  Nurul Hakim Lombok di Tengah Gempa NTT

Jauh dari rumah, ia menggenggam tiga kompas: jujur, rajin, dan hormat. Dan satu pesan orangtua yang tak pernah ia letakkan, “Belajar yang rajin, jangan malu asal kampung, kejujuran lebih mahal dari apa pun.” Kalimat itu menjadi tembok ketika rindu datang, menjadi cambuk ketika malas berbisik. Dan di setiap langkahnya di tanah rantau, pesan itu menjadi akar yang menahannya agar tidak goyah diterpa angin.

Kakak-kakaknya adalah inspirasi paling dekat. Mereka membuktikan bahwa anak kampung pun bisa menggapai gelar.

Karena itu pula pesannya untuk pelajar dan mahasiswa lain begitu kuat: Karena itu pula pesannya untuk pelajar dan mahasiswa lain begitu kuat. “Jangan takut jauh dari rumah. Di sanalah kita belajar mandiri, menjaga nama baik keluarga, dan mengubah nasib melalui perjuangan,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Ada malam ketika ia menangis. Ia melihat Ayah dan Ibu pulang dengan wajah lelah, namun tetap tersenyum dan menyemangati. Tangis itu berubah menjadi bahan bakar.

Momen paling berkesan selama kuliah pun datang saat menyelesaikan skripsi, di titik lelah dan tekanan, doa keluarga dan bimbingan dosen mengingatkannya bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan.

“Sosok yang berpengaruh dalam hidup adalah orangtua. Mereka adalah sumber semangat, teladan kesabaran, dan kerja keras. Segala yang saya miliki dan capai tidak lepas dari doa dan pengorbanan mereka,” ungkapnya.

Suryanti mencintai cerita. Lewat cerita ia bisa berjalan ke zaman yang belum pernah ia pijak, mengenal tokoh yang tak pernah ia temui, dan memungut pelajaran tentang karakter dan keteguhan. Bagi dia, membaca adalah cara paling tenang untuk berkelana tanpa meninggalkan tanah. Karena di setiap halaman, ia menemukan rumah lain untuk hatinya berlabuh.

Baca Juga :  Founder Bagong Mogok Jadi Pejabat di KPK?

Setelah sarjana, ia memilih jalan pulang. Tidak ke S2 dulu, melainkan menjadi pendidik di daerah. Ia ingin mengamalkan ilmunya untuk anak-anak kampung, agar mereka juga berani bermimpi tinggi.

Mimpinya untuk Manggarai Barat sederhana namun dalam: pendidikan semakin maju, budaya tetap dijaga, dan anak-anak tidak kehilangan akar meski mengejar langit.

“Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, dan doa orangtua adalah kunci kesuksesan.” Itu pegangannya.

Karena itu ucapan terima kasihnya ia tujukan pertama kepada Bapak Rektor dan seluruh dosen UMMAT, atas ilmu dan kesabaran yang kini menjadi amal.

Kemudian kepada Ayah dan Ibu, Bapak Nasrudin Abdullah dan Ibu Siti Halima Sedia, gelar ini bukan miliknya seorang, ini milik mereka yang telah menyiramnya dengan keringat dan doa.

“Gelar ini dipersembahkan untuk Ayah dan Ibu sebagai tanda terima kasih atas segala pengorbanan dan doa yang tak terputus. Juga untuk kakak-kakakku dan seluruh keluarga besar yang selalu mendukung,” jelasnya.

Kini Suryanti berdiri di persimpangan antara kenangan dan pengabdian. Dari Pandang ia berangkat, ke Pandang ia ingin kembali membawa cahaya. Bukan untuk menjadi yang paling tinggi, tetapi untuk memastikan tidak ada lagi anak di kampungnya yang merasa kecil karena asal-usulnya.

Agar setiap langkah kecil di tanah kelahiran, kelak menjadi jejak besar bagi masa depan. Dan agar nama Pandang, disebut bukan karena jauhnya, melainkan karena anak-anaknya yang pulang membawa harapan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *