Opini

Terima Kasih The Dudas Minus One

6
×

Terima Kasih The Dudas Minus One

Share this article
IMG 20260827 WA0007
Foto : Ist/GM

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “NTT Bisa!: Dari Reruntuhan Ke Harapa

RABU pagi, 26 Agustus 2026, Maumere di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya disapa angin. Ia disapa langkah-langkah yang datang bukan untuk disorot kamera, melainkan untuk menunduk. Raffi Ahmad, Gading Marten, Ariel NOAH, dan Irfan Hakim turun di tanah Sikka dengan hati yang tidak membawa panggung, hanya membawa rindu pada kemanusiaan.

Di kawasan Pelabuhan L. Say, air masih menyimpan guncangan. Kayu-kayu dermaga berbisik tentang malam ketika bumi bergeser. Di sana, di antara terpal dan tenda, ada banyak mata yang menunggu bukan keajaiban, melainkan kepastian bahwa mereka tidak dilupakan. Dan kepastian itu tiba, diantar ombak.

Kapolres Sikka berjalan mendampingi. Bukan karena takut, tapi karena hormat. Hormat pada mereka yang duka, namun sedang belajar berdiri lagi. Hormat pada rakyat yang meski retak, tetap menawarkan senyum saat tangan diulurkan.

Lalu sebuah kapal kayu bergegas. Bukan kapal besar dengan lampu gemerlap. Hanya perahu sederhana yang tahu cara membelah air menuju Pulau Palue. Di atasnya, bantuan tidak dihitung kotak. Ia dihitung dengan doa, dengan peluh, dengan niat untuk sampai sebelum harapan padam.

Pulau Palue menyambut dengan tanah yang masih gemetar dalam diam. Rumah-rumah menunduk. Anak-anak menatap dari kejauhan, lalu maju selangkah demi selangkah ketika melihat ada orang dewasa yang tidak membawa janji kosong. Bantuan disalurkan tangan ke tangan. Tidak dilempar dari atas, tapi diletakkan di pelukan.

Di sinilah kita diingatkan: bencana tidak memilih siapa yang harus kuat. Ia datang, dan memaksa kita memilih: menjadi penonton atau menjadi saudara. Hari itu, tiga nama yang biasa kita lihat di layar televisi memilih menjadi saudara. Duduk di tanah yang sama, minum air yang sama, mendengar cerita yang sama.

Baca Juga :  Meraih Ampunan dan Keberkahan dengan Perbanyak Syukur

Jauh dari pelabuhan, di layar lain, cinta juga mengalir. The Dudas Minus One: Raffi, Ariel NOAH, Desta, dan Gading, duduk semalaman, tertawa dan menangis bersama ribuan orang lewat siaran langsung. Dari canda dan lagu, terkumpul Rp1 miliar. Uang itu bukan angka. Ia adalah nasi, seng, obat, dan sekolah darurat. Ia adalah bukti bahwa kepedulian bisa lahir bahkan dari ruang tamu.

Kita sering bertanya, apa gunanya ketenaran jika tidak bisa meneduhkan? Hari ini jawabannya datang bersama kapal kayu. Ketenaran menjadi jembatan. Suara menjadi pengeras. Dan panggung dipindahkan ke tempat yang paling sunyi: hati orang-orang yang sedang patah dan terluka oleh duka.

Irfan Hakim, dengan caranya yang hangat, mengingatkan bahwa menghibur bukan hanya di studio. Kadang menghibur adalah duduk diam mendengarkan. Gading hadir dengan pelukan yang tidak banyak bicara. Raffi datang membawa energi untuk tidak menyerah. Mereka tidak datang untuk disanjung. Mereka datang karena mereka juga manusia.

Terima kasih, Raffi Ahmad, Irfan Hakim, Gading Marten, Desta, Ariel dan semua yang mengulurkan tangan. Terima kasih karena di tengah reruntuhan, kalian mengingatkan Flores bahwa langit belum menutup pintunya. Bahwa di ujung gempa, masih ada manusia yang berjalan menyeberang laut, hanya untuk berkata: “Kami di sini. Kami tidak pergi.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *